Di bursa transfer musim panas lalu, Huntelaar berhasil didaratkan Milan ke San Siro. Sesuai julukannya 'The Hunter', tentunya pemain berusia 26 tahun tersebut diharapkan mampu memburu gol sebanyak mungkin dan mempersembahkan kemenangan-kemenangan untuk Milan.
Namun tampaknya, pemain yang menggunakan no. punggung 11 tersebut masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan rumah barunya, I Rossoneri. Buktinya, hingga Milan telah melakoni 7 laga di Serie A dan Liga Champions sudah bergulir 2 laga di babak penyisihan grup, The Hunter belum 1 kalipun mempersembahkan gol untuk Milan. Sungguh jauh dari harapan banyak kalangan agar dia menjadi lumbung gol Milan. Performanya pun juga belum memikat.
Milanisti tentunya tidak sabar lagi menanti gol tercipta dari kaki mantan pemain Ajax dan Madrid tersebut. Awal kedatangannya ke San Siro, setumpuk asa dibebankan ke pundaknya agar dia bisa menciptakan gol sebanyak mungkin untuk Il Diavolo Rosso seperti kala dia menjadi andalan Ajax Amsterdam. Selain itu juga untuk mengobati rasa kecewa Milanisti atas hengkangnya Kaka ke Santiago Barnabeu.
Butuh waktu berapa lama lagi bagi The Hunter guna menciptakan gol untuk Rossoneri? Kita tunggu saja.
Senin, 08 Februari 2010
4 Gol dari 7 Laga
Serie A memang masih bergulir hingga giornata ke-7, tetapi performa Milan sungguh jauh dari harapan. Dari 7 laga yang telah dilakoni, tim besutan Leonardo tersebut 'hanya' mampu mengantongi 9 poin. Il Diavolo Rosso pun hanya memasukkan 4 gol dan kemasukan 7 gol. Sungguh ironis untuk tim sekaliber Milan yang memiliki bomber-bomber kelas dunia seperti Pippo, Pato, Huntelaar, dan Borrielo. Tak ayal, Milan pun merengsek ke posisi 12 klasemen sementara. Memang, masih terlalu dini untuk menilai bahwa Milan akan sulit untuk berbicara banyak di Serie A musim ini mengingat kompetisi masih panjang. Tetapi jika performa Milan dilihat mulai dari hasil pramusim, tampak jelas bahwa sebenarnya Milan dalam masalah besar.
Keluar masuk pemain, pensiun pemain, pergantian pelatih, dan pergantian kapten, memaksa milan untuk tampil dengan 'wajah baru' musim ini. Tampaknya, 'wajah baru' tersebut masih butuh waktu untuk beradaptasi di Serie A.
Milan seolah ingin meyakinkan Milanisti bahwa mereka serius merebut scudetto musim ini dengan mengalahkan Siena pada giornata pertama. Milanisti tentunya belum sepenuhnya yakin dengan performa Milan karena itu masih pekan perdana. Mereka tentunya berharap Milan konsisten meraih hasil positif di laga-laga selanjutnya. Apalagi giornata ke-2 langsung bertemu rival sekota, Inter. Tak perlu ditanya lagi, Milanisti pasti berharap Milanlah pemenang dari derby della madonnina tersebut. Tapi harapan tinggal harapan. Milan dihantam 0-4 oleh I Nerazzuri. Semburat kekecewaan di wajah awak Milan maupun Milanisti tak terbantahkan lagi. Di 5 laga berikutnya, Milan seolah masih terbayang-bayangi mimpi buruk di San Siro tersebut dengan meraih sekali menang, 3 kali seri, dan 1 kali kalah.
Milan harus bergerak cepat untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada jika tidak ingin acap kali mendapat hasil negatif. Menurut saya, belum terlambat karena kompetisi masih panjang. Jika Milan tak bergerak cepat, nirgelar seperti musim lalu, kemungkinan besar akan Milan alami (lagi).
Cepatlah bangkit, Milan!
Keluar masuk pemain, pensiun pemain, pergantian pelatih, dan pergantian kapten, memaksa milan untuk tampil dengan 'wajah baru' musim ini. Tampaknya, 'wajah baru' tersebut masih butuh waktu untuk beradaptasi di Serie A.
Milan seolah ingin meyakinkan Milanisti bahwa mereka serius merebut scudetto musim ini dengan mengalahkan Siena pada giornata pertama. Milanisti tentunya belum sepenuhnya yakin dengan performa Milan karena itu masih pekan perdana. Mereka tentunya berharap Milan konsisten meraih hasil positif di laga-laga selanjutnya. Apalagi giornata ke-2 langsung bertemu rival sekota, Inter. Tak perlu ditanya lagi, Milanisti pasti berharap Milanlah pemenang dari derby della madonnina tersebut. Tapi harapan tinggal harapan. Milan dihantam 0-4 oleh I Nerazzuri. Semburat kekecewaan di wajah awak Milan maupun Milanisti tak terbantahkan lagi. Di 5 laga berikutnya, Milan seolah masih terbayang-bayangi mimpi buruk di San Siro tersebut dengan meraih sekali menang, 3 kali seri, dan 1 kali kalah.
Milan harus bergerak cepat untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada jika tidak ingin acap kali mendapat hasil negatif. Menurut saya, belum terlambat karena kompetisi masih panjang. Jika Milan tak bergerak cepat, nirgelar seperti musim lalu, kemungkinan besar akan Milan alami (lagi).
Cepatlah bangkit, Milan!
PEKAN YANG BERAT
Akhir pekan ini, Milan akan menjamu AS Roma di San Siro. 3 hari kemudian, Milan akan bertandang ke markas Real Madrid, Santiago Bernabeu. Tak dapat dipungkiri, 2 laga tersebut adalah laga yang berat bagi Milan. Apalagi Milan belum menemukan performa terbaiknya. Milan seolah kehilangan roh yang membuat kapal I Rossoneri limbung. Banyak faktor penyebabnya. Dampaknya, Milan pun terjerembab ke urutan 12 klasemen sementara Serie A.
Di giornata ke-8 Milan harus meladeni perlawanan sengit Roma terlebih dahulu sebelum terbang ke Madrid. Performa Roma juga menunjukkan perkembangan positif setelah kursi kepelatihan diisi oleh Ranieri menggantikan Spalletti. Dalam beberapa pertemuan terakhir pun Milan sangat kesulitan kala meladeni Roma. Terakhir kali Milan mengalahkan Roma pada 14 Mei 2006.
Setelah rampung meladeni Roma di San Siro, serdadu Milan akan bertempur melawan Los Blancos di matchday 3 Liga Champions. Jika mengacu pada prestasi, 2 klub ini bisa disebut sebagai penguasa Eropa dengan Madrid sebagai pengoleksi terbanya trofi Liga Champions dengan 9 trofi dan Milan menguntit di belakangnya dengan 7 trofi. Sungguh laga yang ditunggu-tunggu oleh pecinta bola. Tetapi jika melihat performa Milan saat ini, Milanisti rupanya mencoba realistis dan tak berharap banyak. Tentunya banyak kalangan akan memprediksi bahwa laga tersebut akan menjadi milik Madrid, apalagi ditambah nilai plus untuk Madrid, yakni bermain di kandang sendiri. Namun Milan janganlah minder. Bisa saja prediksi itu tak terbukti, karena apapun bisa terjadi dalam sepak bola.
Yang patut ditunggu juga dalam partai Madrid vs Milan adalah reaksi Kaka dan Huntelaar. Apakah Kaka akan menghancurkan klub yang telah membesarkan namanya? Apakah Huntelaar akan menuntaskan dendamnya kepada klub yang telah 'membuangnya'? Let's wait and see!
Di giornata ke-8 Milan harus meladeni perlawanan sengit Roma terlebih dahulu sebelum terbang ke Madrid. Performa Roma juga menunjukkan perkembangan positif setelah kursi kepelatihan diisi oleh Ranieri menggantikan Spalletti. Dalam beberapa pertemuan terakhir pun Milan sangat kesulitan kala meladeni Roma. Terakhir kali Milan mengalahkan Roma pada 14 Mei 2006.
Setelah rampung meladeni Roma di San Siro, serdadu Milan akan bertempur melawan Los Blancos di matchday 3 Liga Champions. Jika mengacu pada prestasi, 2 klub ini bisa disebut sebagai penguasa Eropa dengan Madrid sebagai pengoleksi terbanya trofi Liga Champions dengan 9 trofi dan Milan menguntit di belakangnya dengan 7 trofi. Sungguh laga yang ditunggu-tunggu oleh pecinta bola. Tetapi jika melihat performa Milan saat ini, Milanisti rupanya mencoba realistis dan tak berharap banyak. Tentunya banyak kalangan akan memprediksi bahwa laga tersebut akan menjadi milik Madrid, apalagi ditambah nilai plus untuk Madrid, yakni bermain di kandang sendiri. Namun Milan janganlah minder. Bisa saja prediksi itu tak terbukti, karena apapun bisa terjadi dalam sepak bola.
Yang patut ditunggu juga dalam partai Madrid vs Milan adalah reaksi Kaka dan Huntelaar. Apakah Kaka akan menghancurkan klub yang telah membesarkan namanya? Apakah Huntelaar akan menuntaskan dendamnya kepada klub yang telah 'membuangnya'? Let's wait and see!
MODAL POSITIF UNTUK LAGA-LAGA SELANJUTNYA
Milan mampu melewati ujian berat di pekan ini dengan sempurna. Euforia di kalangan Milanisti pun tak terbantahkan lagi. Yupz, Senin dini hari lalu, I Rossoneri mampu membungkam tamunya, AS Roma dengan skor 2-1. Dan dini hari tadi (Kamis dini hari), Milan berhasil mengubur Madrid di kandangnya sendiri, Santiago Bernabeu dengan skor 3-2. Uniknya, dalam 2 laga tersebut Milan selalu ketinggalan 1-0 terlebih dahulu dari lawan-lawannya sebelum diakhiri dengan kemenangan. Dua laga ini bisa dibilang laga yang berat bagi Milan mengingat kapasitas lawan-lawannya. Dua laga berat dalam waktu berdekatan. Tak pelak, banyak kalangan yang menyebut bahwa 2 laga inilah titik awal kebangkitan Milan dari keterpurukan di musim ini jika Milan mampu memenanginya.
Saya awalnya tak berani memprediksi bahwa Milan akan mampu mengalahkan Roma dan membungkam Real Madrid mengingat performa Milan yang saat ini sedang labil. Apalagi AS Roma menunjukkan grafik permainan yang meningkat bersama Claudio Ranieri. Sedangkan Real Madrid disesaki oleh pemain-pemain kelas wahid macam CR 9, Kaka, Benzema, Xabi Alonso, Casillas, Sergio Ramos, dan Raul Gonzales. Apalagi laga tersebut dihelat di markas kebesaran Real Madrid, Santiago Bernabeu. Jika dilogika, tak sulit rasanya bagi Madrid untuk mengalahkan Milan mengingat materi pemain Milan yang saat ini bisa dibilang 'kalah kelas' dari materi pemain Madrid. Tetapi kenyataan di lapangan, Milan mampu mementahkan prediksi banyak kalangan. Milan berhasil mengakhiri rekor tak terkalahkan AS Roma dibawah Ranieri dan Milan mampu memberi pelajaran berharga untuk anak-anak asuh Manuel Pellegrini. Selama bola itu bulat, apapun bisa terjadi dalam sepak bola. Rasanya pas sekali
pernyataan tersebut untuk Milan.
Milanisti tentunya berharap, hasil positif ini bisa memperbaiki mental serdadu San Siro dan mereka mampu bermain konsisten untuk meraih hasil-hasil positif di laga-laga selanjutnya agar pintu perebutan gelar juara tetap terbuka lebar untuk Milan
Saya awalnya tak berani memprediksi bahwa Milan akan mampu mengalahkan Roma dan membungkam Real Madrid mengingat performa Milan yang saat ini sedang labil. Apalagi AS Roma menunjukkan grafik permainan yang meningkat bersama Claudio Ranieri. Sedangkan Real Madrid disesaki oleh pemain-pemain kelas wahid macam CR 9, Kaka, Benzema, Xabi Alonso, Casillas, Sergio Ramos, dan Raul Gonzales. Apalagi laga tersebut dihelat di markas kebesaran Real Madrid, Santiago Bernabeu. Jika dilogika, tak sulit rasanya bagi Madrid untuk mengalahkan Milan mengingat materi pemain Milan yang saat ini bisa dibilang 'kalah kelas' dari materi pemain Madrid. Tetapi kenyataan di lapangan, Milan mampu mementahkan prediksi banyak kalangan. Milan berhasil mengakhiri rekor tak terkalahkan AS Roma dibawah Ranieri dan Milan mampu memberi pelajaran berharga untuk anak-anak asuh Manuel Pellegrini. Selama bola itu bulat, apapun bisa terjadi dalam sepak bola. Rasanya pas sekali
pernyataan tersebut untuk Milan.
Milanisti tentunya berharap, hasil positif ini bisa memperbaiki mental serdadu San Siro dan mereka mampu bermain konsisten untuk meraih hasil-hasil positif di laga-laga selanjutnya agar pintu perebutan gelar juara tetap terbuka lebar untuk Milan
Terus Konsisten, Milan!
Tak dapat dipungkiri, di awal musim ini, performa Milan sungguh jauh dari yang diharapkan. Merengsek ke posisi-12 klasemen sementara pun pernah Milan alami. Tak pelak, kritikan tajam pun sempat terus-terusan menghujam tim asuhan Leonardo tersebut.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, nampaknya Milan mulai menemukan kecocokan dengan Leonardo. Pemain muda seperti Pato juga mulai menunjukkan perkembangan yang berarti. Posisi ke-3 klasemen sementara Serie A pun berhasil Milan tembus untuk pertama kali di musim ini setelah merengkuh kemenangan atas Lazio tadi malam. Milan kini mengantongi 22 poin, selisih 7 poin dari pemuncak klasemen sementara yang merupakan saudara sekota I Rossoneri, Inter Milan.
Sesudah kesulitan, pasti ada kemudahan. Hadapi kesulitan itu dengan kesabaran. Rasanya pantas sekali pernyataan itu untuk Milan. Setelah sebelumnya terpuruk, perlahan-lahan Milan mampu bangkit. Ini mungkin juga karena buah kesabaran manajemen Milan kepada Leonardo. Manajemen Milan tetap sabar untuk memberi kesempatan kepada pelatih yang awalnya sangat diragukan kapasitas dan durabilitasnya tersebut. Walau isu pemecatan sempat menyeruak, tetapi pelatih asal Brasil tersebut tetap teguh pada pendiriannya untuk membalas rasa percaya manajemen Il Diavolo Rosso atas penunjukan dirinya yang minim pengalaman untuk menahkodai tim sekaliber Milan.
Kemenangan 2-1 atas AS Roma di giornata ke-8 bisa dibilang itulah titik awal kebangkitan Milan. Setelah laga itu, serdadu San Siro belum terkalahkan hingga saat ini baik itu di Serie A maupun Liga Champions. Yang harus dilakukan Milan adalah, terus konsisten untuk meraih hasil positif. Jangan sampai lengah. Jika Milan mampu konsisten terhadap performa apiknya, harapan untuk meraih gelar di musim ini bukanlah mimpi di siang bolong.
FORZA MILAN!
Namun seiring dengan berjalannya waktu, nampaknya Milan mulai menemukan kecocokan dengan Leonardo. Pemain muda seperti Pato juga mulai menunjukkan perkembangan yang berarti. Posisi ke-3 klasemen sementara Serie A pun berhasil Milan tembus untuk pertama kali di musim ini setelah merengkuh kemenangan atas Lazio tadi malam. Milan kini mengantongi 22 poin, selisih 7 poin dari pemuncak klasemen sementara yang merupakan saudara sekota I Rossoneri, Inter Milan.
Sesudah kesulitan, pasti ada kemudahan. Hadapi kesulitan itu dengan kesabaran. Rasanya pantas sekali pernyataan itu untuk Milan. Setelah sebelumnya terpuruk, perlahan-lahan Milan mampu bangkit. Ini mungkin juga karena buah kesabaran manajemen Milan kepada Leonardo. Manajemen Milan tetap sabar untuk memberi kesempatan kepada pelatih yang awalnya sangat diragukan kapasitas dan durabilitasnya tersebut. Walau isu pemecatan sempat menyeruak, tetapi pelatih asal Brasil tersebut tetap teguh pada pendiriannya untuk membalas rasa percaya manajemen Il Diavolo Rosso atas penunjukan dirinya yang minim pengalaman untuk menahkodai tim sekaliber Milan.
Kemenangan 2-1 atas AS Roma di giornata ke-8 bisa dibilang itulah titik awal kebangkitan Milan. Setelah laga itu, serdadu San Siro belum terkalahkan hingga saat ini baik itu di Serie A maupun Liga Champions. Yang harus dilakukan Milan adalah, terus konsisten untuk meraih hasil positif. Jangan sampai lengah. Jika Milan mampu konsisten terhadap performa apiknya, harapan untuk meraih gelar di musim ini bukanlah mimpi di siang bolong.
FORZA MILAN!
Kompetisi yang Aneh
Bingung. Itulah yang ada dalam pikiran saya ketika mengamati kompetisi kasta tertinggi di Indonesia, ISL. Harapan agar musim ke-2 ini lebih baik dari musim pertama, nampaknya agak sulit untuk terwujud. Kompetisi belum juga separuh jalan, tapi ada hal aneh menurut saya. Jadwal yang aneh. Ada klub yang diliburkan bertanding seperti Persib, Sriwijaya FC, Pelita Jaya, dan Persija. Di saat ada klub yang sudah melakoni 7 laga, tetapi mereka masih melakoni 2 laga. Sungguh selisih pertandingan yang sangat kontras. Jika selisihnya 1 pertandingan, seperti umumnya terjadi di liga-liga Eropa, mungkin masih bisa dimaklumi.
Alasan klub-klub tersebut diliburkan sementara selama kurang lebih 1 bulan adalah karena pemain mereka banyak yang dipanggil oleh Benny Dolo untuk memperkuat timnas merah putih dalam menghadapi Pra Piala Asia 2011.
Menurut saya, seharusnya klub-klub tersebut tidak perlu diliburkan. Tetap berlaga di ISL layaknya klub-klub yang lain. Mereka masih bisa memaksimalkan sisa pemain yang mereka miliki sehingga bisa menambah jam terbang pemain yang mungkin sering menghuni bangku cadangan. Dengan begitu, materi pemain akan menjadi seimbang jika mereka benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Toh sama saja dengan menunggu pemain timnas kembali ke klub setelah berlaga di Pra Piala Asia. Pemain-pemain timnas pastinya juga kelelahan setelah membela timnas Indonesia, sedangkan klub-klub tersebut harus berlaga dengan jadwal yang padat untuk mengejar ketertinggalan mereka. Jika mereka tidak pintar-pintar mengatur strategi, terpeleset sedikit, pasti akan berakibat fatal.
Melihat klasemen ISL, saya kadang bingung juga dengan peta kekuatan klub-klub di Indonesia.
Maju terus sepak bola Indonesia!
Alasan klub-klub tersebut diliburkan sementara selama kurang lebih 1 bulan adalah karena pemain mereka banyak yang dipanggil oleh Benny Dolo untuk memperkuat timnas merah putih dalam menghadapi Pra Piala Asia 2011.
Menurut saya, seharusnya klub-klub tersebut tidak perlu diliburkan. Tetap berlaga di ISL layaknya klub-klub yang lain. Mereka masih bisa memaksimalkan sisa pemain yang mereka miliki sehingga bisa menambah jam terbang pemain yang mungkin sering menghuni bangku cadangan. Dengan begitu, materi pemain akan menjadi seimbang jika mereka benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Toh sama saja dengan menunggu pemain timnas kembali ke klub setelah berlaga di Pra Piala Asia. Pemain-pemain timnas pastinya juga kelelahan setelah membela timnas Indonesia, sedangkan klub-klub tersebut harus berlaga dengan jadwal yang padat untuk mengejar ketertinggalan mereka. Jika mereka tidak pintar-pintar mengatur strategi, terpeleset sedikit, pasti akan berakibat fatal.
Melihat klasemen ISL, saya kadang bingung juga dengan peta kekuatan klub-klub di Indonesia.
Maju terus sepak bola Indonesia!
Sampai Kapan Terus Seperti Ini?
Kerusuhan dan anarkhis seolah bukanlah menjadi hal tabu lagi dalam persepakbolaan Indonesia. Entah itu dilakukan oleh suporter maupun pemainnya sendiri. Mereka seolah tak jemu untuk melakukan tindakan yang sejatinya tak patut untuk dilakukan. Apa sih untungnya dari tawuran? Apa kita akan menjadi beken setelah melakukan tindakan anarkhis? Justru dampak negatif yang malah didapat.
Kerusuhan setelah pertandingan Arema vs Persipura di stadion Kanjuruhan Rabu lalu (9/12) adalah satu dari sekian banyak contoh yang menodai citra persepakbolaan tanah air. Walau tergolong kerusuhan kecil, tetap saja hal tersebut tak sewajarnya untuk dilakukan. Kerusuhan tersebut diawali dari provokasi Aremania kepada pemain-pemain Persipura setelah pertandingan usai. Bahkan tak sedikit Aremania yang turun ke pinggir lapangan dan harus berhadapan dengan aparat keamanan. Parahnya lagi, anak-anak asuhan Jacksen F Tiago terpancing emosinya. Baku hantam botol air mineral pun tak terelakkan. Tak berhenti sampai di situ. "Drama" tersebut berlanjut ke ruang ganti pemain. Pemain-pemain Mutiara Hitam seolah belum puas melampiaskan kekesalannya. Fasilitas ruang ganti pun menjadi sasaran mereka berikutnya.
Sungguh ironis memang melihat fenomena tersebut dan membuat saya tak habis pikir. Kenapa Aremania memprovokasi pemain lawan? Bukankah Arema memenangi laga tersebut? Bukankah Arema juga tengah bercokol di puncak klasemen sementara ISL? Apa yang sebenarnya Aremania cari? Bukankah Aremania sudah pernah mendapat sanksi dari komdis setelah berbuat onar di stadion Brawijaya, Kediri? Tak jerakah engkau Aremania? Bukankah dulu julukan The Best Supporter pernah engkau dapat? Sekarang semua itu lenyap tak bersisa karena akibat dari tingkah lakumu sendiri, Aremania. Jika engkau mengaku Aremania sejati dan cinta Arema sepenuh hati, dukunglah Arema dengan menjujung sportifitas yang tinggi. Jangan malah berbuat anarkhi. Apapun hasil yang Arema peroleh, harus bisa menerima dengan lapang dada dan bersikaplah dewasa. Buat bangga warga Malang!
Kerusuhan setelah pertandingan Arema vs Persipura di stadion Kanjuruhan Rabu lalu (9/12) adalah satu dari sekian banyak contoh yang menodai citra persepakbolaan tanah air. Walau tergolong kerusuhan kecil, tetap saja hal tersebut tak sewajarnya untuk dilakukan. Kerusuhan tersebut diawali dari provokasi Aremania kepada pemain-pemain Persipura setelah pertandingan usai. Bahkan tak sedikit Aremania yang turun ke pinggir lapangan dan harus berhadapan dengan aparat keamanan. Parahnya lagi, anak-anak asuhan Jacksen F Tiago terpancing emosinya. Baku hantam botol air mineral pun tak terelakkan. Tak berhenti sampai di situ. "Drama" tersebut berlanjut ke ruang ganti pemain. Pemain-pemain Mutiara Hitam seolah belum puas melampiaskan kekesalannya. Fasilitas ruang ganti pun menjadi sasaran mereka berikutnya.
Sungguh ironis memang melihat fenomena tersebut dan membuat saya tak habis pikir. Kenapa Aremania memprovokasi pemain lawan? Bukankah Arema memenangi laga tersebut? Bukankah Arema juga tengah bercokol di puncak klasemen sementara ISL? Apa yang sebenarnya Aremania cari? Bukankah Aremania sudah pernah mendapat sanksi dari komdis setelah berbuat onar di stadion Brawijaya, Kediri? Tak jerakah engkau Aremania? Bukankah dulu julukan The Best Supporter pernah engkau dapat? Sekarang semua itu lenyap tak bersisa karena akibat dari tingkah lakumu sendiri, Aremania. Jika engkau mengaku Aremania sejati dan cinta Arema sepenuh hati, dukunglah Arema dengan menjujung sportifitas yang tinggi. Jangan malah berbuat anarkhi. Apapun hasil yang Arema peroleh, harus bisa menerima dengan lapang dada dan bersikaplah dewasa. Buat bangga warga Malang!
Langganan:
Postingan (Atom)
